ISSN 0126-3579: KOROSI, Majalah Ilmu & Teknologi, Vol. 16 No. 2, Oktober 2007

Pemimpin Umum: Kepala Pusat Metalurgi LIPI. Wakil Pemimpin Umum: Kabid Konservasi Bahan. Dewan Redaksi: Prof. Dr. Adyana, APU., Dr. Ir. A. Sulaiman, Dr. Ir. Bambang Widyanto, Dr. Ir. Isdriayani Nurdin, Ir. Eddy Dwi Tjahjono, Dr. Ir. Djusman Sajuti, Drs. Iing Musalam, Ir. Ronald Nasoetion, M.T., Drs. Sundjono, Ir. Harini, Ir. Budi Priyono, Ir. Harsisto, M. Eng. Redaksi Pelaksana:Ir. To'at Nursalam, Bahari B.E. Sekretariat: Drs. Eddy Mistam, M.M., Drs. Gufron Tarafi.
Alamat Redaksi: Gedung 474 Puslit Metalurgi-LIPI, Kawasan Puspiptek, Cisauk-Tangerang, 15314. Telp. (021) 7560911. Faks. (021) 7560553.

Penerbit: LIPI Press, anggota Ikapi, Jl. Gondangdia Lama 39, Menteng, Jakarta 10350, Telp. (021) 314 0228, 314 6942. Fax. (021) 314 4591, Email: press@mail.lipi.go.id, lipipress@centrin.net.id; bmrlipi@centrin.net.id


Daftar Isi

KOROSI CREVICE YANG MENGAKIBATKAN RUSAK DAN PECAHNYA TUBE PADA HEAT EXCHANGER
M.N. Setia Nusa

Korosi crevice mengakibatkan rusak dan pecahnya tube pada heat exchanger, di mana heat exchanger tersebut pada tube sheet berisi air sedangkan pada shell side berisi produk Naphta/LPG. Heat exchanger telah beroperasi sekitar 14 tahun. Untuk itu dilakukan analisis kerusakan dengan pengujian dan pemeriksaan secara visual, Fractography, Metallography, SEM, EDAX, Uji Kekerasan dan Uji Kompetisi Kimia. Hasil pemeriksaan dan pengujian pada tube yang pecah/lobang yang diakibatkan oleh korosi crevice yang diawali air dalam tube yang mengandung deposit dan unsur sulfida yang bersifat korosif. Pada daerah lobang terjadi deformasi plastis, indikasi ini terjadi sebelum tube tersebut dipasang, di mana struktur mikro yang mengalami deformasi plastis adalah tidak tahan korosi karena adanya residual stress yang terbentuk dan berfungsi sebagai energi pengaktif serangan korosi lokal.

Kata kunci: Heat exchanger, Deposit, Deformasi Plastis, Korosi Crevice, Pecah


FENOMENA KOROSI DI BAWAH ISOLASI PANAS PADA MATERIAL TP-321 PIPA UAP HIDROKARBON
M Syahril

Pipa yang digunakan sebagai transportasi uap hidrokarbon yang diisolasi dengan menggunakan glass wool telah mengalami kerusakan berupa serangan korosi. Di dalam makalah ini akan dibahas mengenai fenomena kerusakan dari pipa materila TP-321. Hasil pemeriksaan dengan menggunakan metode visual, fraktografi, metalografi, kekerasan, komposisi kimia dan analisis unsur produk korosi dengan menggunakan SEM-EDX menunnjukkan bahwa kerusakan korosi material TP-321 disebabkan oleh air atau uap air yang terjebak di anatara permukaan pipa dengan glass wool sebagai isolasi, adanya unsur yang bersifat korosif, temperatur dan tegangan yang bekerja pada pipa sehingga menimbulkan karakteristik kerusakan berupa korosi lubang dan korosi retak tegang. Tipe kerusakan ini disebut sebagai "korosi di bawah isolasi panas".

Kata kunci : kerusakan, korosi, lubang, retak, material, uap air, isolasi.


MODEL KOMBINASI PERTUMBUHAN LAPISAN YANG MENGANDUNG GAS H2S DAN CO2
Yuli Panca Asmara

Selain gas CO2, komponen penyebab prilaku korosi di lingkungan minyak dan gas bumi adalah gas H2S. Gas H2S adalah unsur terpenting yang dapat mengubah pola perilaku korosi di lingkungan yang mengandung gas CO2. Gas ini menyerang material dan menimbulkan jenis korosi pitting. Gas H2S dipercaya dihasilkan dari metabolisme mikroba dalam minyak bumi yang ikut terangkut saat pengeboran. Pada jumlah yang kecil gas H2S dapat menyebabkan korosi, tetapi pada jumlah yang relatif tinggi (lebih dari 15ppm), korosi dapat berkurang akibat pembentukan lapisan FeS di permukaan besi. Lapisan FeS di permukaan besi akan memberikan hambatan terhadap berlangsungnya rekasi korosi. Di lingkungan yang banyak mengandung gas CO2, pertumbuhan lapisan sulfide besi yang berinterkasi dengan lapisan karbida besi tidak dapat dihindari. Pemodelan dengan melibatkan interkasi kedua lapisan yang dihasilkan dari perpaduan karbida/sulfide besi perlu diketahui untuk dapat memprediksi perilaku korosi secara akurat. Dengan maksud meningkatkan akurasi perhitungan diperlukan studi mendalam tentang perilaku termodinamika dan kinetika gas CO2/H2S selama berlangsungnya reaksi korosi. Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan pemodelan dan studi literatur. model prediksi korosi yang digunakan adalah Ohio Model, yaitu model yang dikembangkan oleh Nesic. Dengan model ini dapat diramalkan dampak pertumbuhan lapisan terhadap kecepatan korosi. Dengan menggunakan model ini, juga dapat digambarkan perubahan komposisi kimia yang menyebabkan perubahan pH di dalam film. selanjutnya studi literatur digunakan untuk mempelajari perilaku korosi dan kualitas lapisan yang dibentuk oleh paduan gas CO2/H2S.

Kata Kunci: Korosi CO2, kompetisi reaksi CO2/H2S, Korosi model Ohio, Pembentukan film


PENGARUH SENYAWA ORGANIK BENZOTRIAZOL TERHADAP INHIBISI KOROSI DAN EROSI PADA LOGAM PADUAN TEMBAGA DALAM LINGKUNGAN KHLORIDA
Sundjono

Logam kupronikel 70-30 dan Al brass masih banyak digunakan untuk pipa pada unit penukar panas sistem once throuh dengan media pendingin air laut. Logam tersebut relatif tahan terhadap korosi dalam lingkungan air laut dibandingkan dengan baja karbon atau baja tahan karat. Akan tetapi, masalah korosi masih sering dijumpai. Untuk meminimalisasi sorosi perlu dilakukan pengendalian korosi yang sesuai yaitu dengan inhibitor korosi. Telah dilakukan penelitian efisisensi inhibisi korosi terhadap kupronikel 70-30 dan Al brass dalam larutan 3,5% NaCl dengan inhibitor senyawa organik benzotriazole. Metode penelitian korosi dilakukan dengan polarisasi berdasarkan ASTMG-5. Parameter uji, variasi temperatur: 30 dan 50 derajat celcius, laju alir:0,200, 400 600 dan 1000 meter per detik, dosis inhibitor:0,50, 100 dan 150 ppm. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa logam kupronikel 70-30 baik dalam kondisi stagnan maupun mengalir relatif lebih tahan terhadap korosi dan erosi daripada Al brass. Laju korosi dan erosi dipengaruhi oleh temperatur dan laju alir. Senyawa organik benzotriazole dengan dosis di anatara 50-150 ppm dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian korosi pada logam kupronikel 70-30 dan Al brass dalam lingkungan khlorida. Efisiensi inhibisi korosi senyawa organik benzotriazole terhadap logam kupronikel 70-30dan Al brass bisa mencapai di atas 90%. Efisiensi inhibisi korosi dari senyawa benzotriazole terhadap logam kupronikel 70-30 dan Al brass dalam larutan 3,5% NaCl pada temperatur 50 derajat celcius lebih tinggi daripada temperatur 30 derajat celcius.

Kata kunci: kupronikel, Al brass, air laut, Once through, pipa, penukar panas, korosi, erosi, polarisasi, inhibitor, benzatriazole, efisisensi, inhibisi.


NAOH-MEDIUM CORROSION OF AISI430 ALLOY
Aziz K Jahja, Nurdin Effendi, dan Marzuki Silalahi

Korosi logam paduan AISI430 pada medium NaOH. Minimnya ketersediaan data-data fisis maupun kimiawi yang mendetil untuk logam paduan tipe baja SS telah mendorong dilakukannya penelitian fisik-kimiawi logam-logam paduan termasuk diantaranya keluarga SS, dalam hal ini baja AISI430. Salah satu sifat kimiawi yang terkait dengan proses termodinamik dalam suatu bahan aloi aialah proses korosi. Tujuan utama penelitian ini adalah memetakan wilayah-wilayah aktif, pasif dan transpasif korosi pada bahan AISI430 dengan melakukan pengukuran uji-potensiodinamika. Telah diamati efek korosi, dan informasi mengenai kondisi sampel sebelum dan sesudah proses korosi dalam medium pengkorosi NaOH. Metode yang mengandalkan pengukuran laju korosi ini ditetapkan kepada sampel menggunakan medium pengkorosi NaOH dengan konsentrasi tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa medium 0.2 M NaOH menimbulkan laju korosi yang lebih cepat. Pada larutan 0.1 M wilayah pasif mulai terbentuk pada potensial 400 mV-500mV, dan tepat pada potensial 400 mV untuk larutan 0.2 M NaOH. Penelitian mikrografis mengindikasikan bahwa lapisan pelindungan pada permukaan sampel mulai menipis akibat korosi dan sampel AISI30 akan berinteraksi langsung dengan lingkungan elektrolitnya sehingga mengakibatkan korosi dan kerusakan pada logam. Walaupun pada larutan NaOH kerusakan ini cenderung bersifat kecil. Analisis kimiawi untuk reaksi korosi kompleks pada larutan 0.1-0.2 M NaOH ialah Fe2O3, FeO(OH) dan Cr2O3.

Kata kunci: Korosi, AISI 430, potentiodinamis, pasif, larutan NaOH.


TINJAUAN TEKNOLOGI SEMPROT DINGIN METODE PERLINDUNGAN LOGAM PADUAN MAGNESIUM
Nono Darsono

Magnesium (Mg) merupakan material ringan untuk aplikasi struktural. Magnesium memiliki bobot 35% lebih ringan dari alumunium dan 78% lebih ringan dari baja. Oleh karena itu paduan magnesium sangat cocok untuk produksi masal komponen otomotif. Akan tetapi pemakaian paduan magnesium dalam komponen otomotif masih terbatas dikarenakan paduan ini memiliki sifat mulur dan ketahanan yang rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan ketahanan korosi dan sifat mekanis paduan magnesium adalah lapisan semprot dingin. Dalam tulisan ini penulis akan mereview teknologi pelapisan dengan menggunakan teknik semprot dingin.

Kata kunci: magnesium, otomotif, korosi, semprot dingin, pelapisan.


UJI KETEBALAN DAN KEKERASAN LAPISAN NIKEL PADA DOP BAN MOBIL
Harini

Contoh dop ban mobil yang diambil secara acak diuji ketebalan dan kekerasannya. Pengukuran ketebalan dilakukan dengan metode merusak yaitu dengan menggunakan mikroskop dan uji kekerasan dilakukan dengan alat uji kekerasan mikro. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dop ban mobil yang diuji memiliki beberapa lapisan pelindung (lapisan berganda) yaitu lapisan tembaga, nikel, dan krom. Ketebalan lapisan tembaga yang berkisar 25-119, lapisan nikel 37,5-153 memnuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh beberapa standar (British Standar maupun ASME). Pengujian kekerasan dengan beban 100g, 50g, dan 20g menghasilkan kekerasan 683,8-939,7 VHN.

Kata kunci: dop ban mobil, plating, nikel, tembaga, krom, ketebalan, kekerasan, vickers.