ISSN 0125-9989: Masyarakat Indonesia, Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, Jilid XXX, No. 2, 2003

Pemimpin Umum: Dewi Fortuna Anwar. Wakil Pemimpin Umum: Ridwan Jacub. Pemimpin Redaksi: Ninuk Kleden-Probonegoro. Wakil Pemimpin Redaksi: Deny Hidayati. Anggota Redaksi: Tri Ratnawati, Jusmaliani, Ary Wahyono, Erwiza Erman. Pelaksana: Agusto W.M., Leolita Masnun, Made Subaliati.

Alamat Redaksi: Deputi IPSK - LIPI, JL. Jend. Gatot Subroto 10, Jakarta, Telp. 5251542 ext. 663, 647, Email: masyarakati@yahoo.com

Penerbit: LIPI Press, Anggota Ikapi, Jl. Gondangdia Lama (RP Suroso) No. 39 Jakarta 10350. Telp.: (021) 314 ­ 0228, 314 ­ 6942. Fax.: (021) 314 ­ 4591. Email: press@mail.lipi.go.id; bmrlipi@centrin.net.id; lipipress@centrin.net.id


Daftar Isi

Borderland Identity Construction Within a Market Place of Narratives: Preliminary Notes on the Batang Kanyau Iban in West Kalimantan
Dave Lumenta

Abstrak
Narasi-narasi alternatif yang diperoleh melalui pengalaman sejarah pada masyarakat Batang Kanyau Iban, di perbatasan Kalimantan Barat menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas mereka. Penulis beragumen bahwa batas-batas administratif antar negara sama sekali tidak mempan untuk memasukkan dan membatasi komunitas daerah perbatasan ke dalam proyek nasionalisme bangsa. Bagi masyarakat Iban, berbagai narasi dari luar seringkali dinegosiasikan, jika tidak ditolak dengan narasi mereka sendiri yang didasarkan pada peristiwa-peristiwa sejarah yang dialami. Narasi-narasi yang dibangun juga berfungsi sebagai respon terhadap hubungan pusat-pinggiran yang diciptakan oleh pemerintah kolonial dan diteruskan oleh pemerintah Indonesia. Dari narasi-narasi yang mereka bangun nampak di dalam cara mana mereka mempertahankan identitas mereka sebagai komunitas Iban yang lebih luas. Paper ini adalah sebuah usaha untuk menelusuri proses-proses sejarah yang memberi sumbangan terhadap pembangunan identitas masyarakat perbatasan.


Social Identity and Conflict: The Case of Indonesia's East Kalimantan Province
Thung Ju Lan

Abstrak
Tulisan ini melihat politik konflik di Provinsi Kalimantan Timur dengan menggunakan data-data sejarah dan etnografi. Para penulis menganalisa akar, proses dan faktor-faktor pendukung konflik politik yang terjadi akhir-akhir ini, pada masyarakat Kalimantan Timur yang multi-etnik. Berbagai teori psikologi sosial, termasuk konsep-konsep tentang identitas sosial, konflik yang realistik, keterampasan/ keterpinggiran relatif dan pen-stereotip-an, dipergunakan sebagai kerangka analisis dalam tulisan ini.


Konflik di Kalbar dan Kalteng: Sebuah Perbandingan
Heru Cahyono

Abstract
An explosion of violence in Kalimantan in the late February 2001 shook the entire Province of Central Kalimantan. Thousands of Dayaks armed with machetes and home-made spears, hunted down migrants from the Island of Madura, killing at random and destroying entire villages. In less than two weeks, the Dayaks had killed more than 400 people and 80,000 were forced to leave Central Kalimantan.


Masyarakat Adat, LSM dan Perebutan SDA Sebuah Pengamatan Awal di Kalimantan Tengah
Riwanto Tirtosudarmo

Abstract
Since the step down of President Suharto in May 1998 the control of central government to the region has been strongly challenged by various form of unleashed local power contesting for political and economic resources. In Central Kalimantan, a province that is born after a strong demand made by the Dayak’s leader for having their own territory, the richness of its natural resources obviously become a source of competion among the different intesrest groups. The introduction of the new laws on decentralization and regional autonomy in 2000 expected to provide legal and administrative framework for the process of reorganizing power relationship between the center and the regions. This paper is a preliminary observation on how actors and instititutions outside the government are responded to the new political opportunities and what mechanism they are opted in solving the dispute in the area of natural resources. In order to understand the current situation this paper explores the history of the region and its people. Two institutions, namely ‘masyarakat adat’ representing the indigenous aspirations and LSM as a more modern civil society organization; are specially analysed as they generally perceived as social institutions that are representing the people’s aspirations. The preliminary findings however show that these two instititutions apparently still far from being able to play their role as representing civil society movement that is needed in democratizing the process of power reorganization in the region.


Management of Mahakam Delta: Issues and Challenges
Deny Hidayati

Abstrak
Delta Mahakam yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, sangat kaya sumber daya alam. Delta yang didominasi oleh ekosistem mangrove mempunyai fungsi ekonomi dan ekologi yang sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan keseimbangan lingkungan. Tetapi, sumber daya ini telah mengalami eksploitasi secara berlebihan yang telah mengancam kelestariannya. Perusakan Delta Mahakam berkaitan erat dengan prilaku stakeholders yang merusak dan system pengelolaan delta yang belum memadai. Faktor yang pertama didasarkan pada dua aspek yaitu ekonomi, terutama karena keserakahan, dan non-ekonomi, termasuk kurangnya pengetahuan dan informasi serta ketidak pedulian stakeholders. Motif ekonomi merupakan faktor kunci dalam perusakan delta. Keserakahan merupakan alasan utama untuk melakukan eksploitasi secara berlebihan, terutama dilakukan oleh sekelompok kecil penduduk dan elit lokal yang mempunyai modal, khususnya pengusaha tambak yang sekaligus adalah pedagang (punggawa). Keterlibatan mereka sangat dominan. Punggawa mengusahakan dan menguasai sebagian besar lahan tambak di delta ini dan dengan akses modal dan pasar, mereka mengontrol perkembangan tambak. Kelompok pengontrol lain adalah cold storage dan importer serta konsumen udang internasional. Di samping itu, peran perusahaan migas juga cukup substansial. Kontribusi kegiatan migas bukan hanya dalam eksploitasi delta, tetapi yang juga penting adalah dampak ikutannya dalam meningkatkan kegiatan ekonomi yang mendukung kegiatan migas dan meningkatnya migran yang mengadu nasib di Delta Mahakam.


Kondisi Perekonomian Masyarakat Perbatasan: Entikong dan Nunukan
Robert Siburian

Abstract
Socio-economic and cultural dynamics of the society in border areas between Entikong and Nunukan are more dominant than those who live in other Kalimantan’s border areas. Their economic activities are more diverse and with more heterogeneous population. In other areas, the economic activities and population are more homogeneous. Entikong and Nunukan have developed to become trading and service centers and a transit area to Malaysia. For these two locations, Malaysia plays an important role in developing economic activities of the society. This article discusses the economic condition of the society and how far the influence of Malaysia on the economy of these areas.