Dewan Redaksi: Totok M. S. Soegandi (Ketua), Tarzan Sembiring (Wakil Ketua), Dyah Hardini (Sekretaris),
Anggota : Mochmad Ichwan, Supartono S, Iip Syarif Hidayat, Adiseno, Tigor Nauli, Elan
Djaelani, Linar Zalinar Udin, Anny Sulaswatty, Adrin Tohari, Heru Santoso, Kreshna
Amurwabumi, Masno Ginting, Rudy Subagja. Redaksi Pelaksana: Agusto W. Martosudirdjo, Kamaludin, Euis Setiawati, Siti Kania Kushadiani, Nanik Supriyanti.
Alamat Redaksi: UPT Balai Informasi Teknologi,
Kompleks LIPI Gd. 40,
Jl. Cisitu, Sangkuriang Bandung 40135
Telp. (022) 2502832, 2504265
Penerbit: LIPI Press, Anggota Ikapi, Jl. Gondangdia Lama (RP Suroso) No. 39 Jakarta 10350. Telp.: (021) 314–0228, 314–6942. Fax.: (021) 314–4591. e-mail: press@mail.lipi.go.id; bmrlipi@centrin.net.id; lipipress@centrin.net.id; press@lipi.go.id; penerbit@lipi.go.id
Daftar Isi
SISTEM MANAJER PADA SISTEM KOLABORASI BERBASIS WEB
Jasman Pardede, Arjon Turnip, dan Adi Santoso
Abstrak
Berkolaborasi dalam menyelesaikan suatu tugas kelompok merupakan bagian penting dalam proses bisnis karena setiap orang perlu untuk mendiskusikan gagasan-gagasannya, membagikan pemikirannya, mengkoordinasikan rencananya, menetapkan rencana kerja selanjutnya dan membuat suatu keputusan bersama. Untuk mengatur agar kolaborasi berjalan dengan baik, diperlukan suatu sistem yang disebut System manager. System manager merupakan suatu aplikasi yang bertanggung jawab untuk mengatur dan memfasilitasi setiap client yang berkolaborasi dengan pengontrolan aktivitas pengguna, pengaturan sesi, dan workspace. Aplikasi ini memfasilitasi pengguna dalam mendukung fungsionalitas pengiriman teks dan gambar pada suatu kelompok. selain itu aplikasi ini akan memfasilitasi pembahasan suatu topik tertentu dengan jumlah pengguna yang relatif banyak. Aplikasi ini memperhatikan koordinasi komponen Computer Supported Work (CSCW).
Kata Kunci: System manager, CSCW, Kelompok, Berkolaborasi, Sesi, Client.
MODIFIKASI SISTEM PERUBAHAN PARAMETER PADA PROGRAM "STEEPEST DESCENT"
Juswoto Damtoro
Abstrak
Program komputer Steepest Descent yang dibuat oleh Koefoed berguna untuk menganalisis data geolistrik. Program tersebut terkadang tidak dapat menekan simpangan kesalahan sampai sekecil-kecilnya meskipun data lapangan yang digunakan berupa data model sebagai hasil dari perhitungan program komputer dengan data yang hampir sempurna. Telah dilakukan modifikasi suatu sistem perubahan parameter untuk iterasi pada program komputer Steepest Descent. Hasil modifikasi tersebut menunjukkan penurunan simpangan kesalahan yang cukup berarti dibandingkan statemen aslinya.
Kata Kunci: Program komputer, Geolistrik, "Steepest Descent", Koefoed.
FUNGSI ANALISIS DALAM SISTEM INFORMASI GEOGRAFI: ESTIMASI EROSI HULU DAS BRANTAS
Ida Narulita
Abstrak
Analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografi telah digunakan untuk estimasi nilai erosi dan tingkat erosi di bagian hulu DAS Brantas. Kategori pendekatan yang dilakukan dalam analisis spasial adalah kategori pertanyaan, kategori funsi, dan kategori jawaban. Penentuan tingkat erosi dilakukan berdasarkan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation) yang dikembangkan oleh Weischmeier pada tahun 1976. Operasi dalam analisis spasial yang digunakan adalah pencarian (query), tumpang susun (overlay), dan klasifikasi (ranking). Hasil analisis spasial dengan menggunakan operasi tersebut berupa tematik baru yang tersimpan dalam basis data spasial. Hasil studi ini menunjukkan dengan menggunakan analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografi dapat diperoleh nilai estimasi erosi dan tingkat bahaya erosi di hulu DAS Brantas beserta faktor penyebabnya.
Kata Kunci: Analisis spasial, Sistem Informasi Geografi, Erosi, DAS Brantas.
PENGARUH AUTO-BOOSTER TERHADAP KINERJA MOTOR BAKAR
Tri Admono dan Aep Saepudin
Abstrak
Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja motor adalah dengan memperbaiki kualitas campuran bahan bakar dan udara, di antaranya dengan memasang auto-booster pada daerah intake. Untuk melihat pengaruh penambahan auto-booster terhadap kinerja motor, dilakukan pengujian pada motor empat silinder 1486 cc. Hasil pengujian menunjukkan bahwa torsi dan daya dari motor tanpa auto-booster dengan motor menggunakan auto-booster hampir sama, tetapi dengan daya yang sama, motor dengan auto-booster dapat menghemat pemakaian bahan bakar sebesar 4% pada putaran 4000 rpm .
Kata Kunci: Kinerja motor, Auto-booster, Motor bakar.
MODIFIKASI JUMLAH KUTUB MOTOR INDUKSI 3 FASA ROTOR SANGKAR: STUDI KASUS KUMPARAN TAK SIMETRIS
Pudji Irasari, Yudo Pramono, Nurafni Dwi Hidayati
Abstrak
Modifikasi kutub motor induksi 3 fasa dari 6 kutub menjadi 8 kutub dilakukan untuk mengubah kecepatan motor dari 1000 rpm menjadi 750 rpm. Spesifikasi motor yang digunakan adalah 380 V/0.37 kW/50 Hz. Data teknis lilitan lama digunakan sebagai referensi untuk memperoleh konfigurasi lilitan baru, meliputi: jumlah lilitan per fasa (N = 648), diameter kawat (dwl= 0,55 mm), dan putaran (n1 = 1000 rpm). Dari hasil perhitungan diperoleh konfigurasi lilitan baru tak simetris, dengan jumlah lilitan per fasa (Nb = 864), diameter lilitan (dwb = 0,4 mm), dan putaran ( nb = 750 rpm). Hasil modifikasi diuji untuk mengetahui unjuk kerja motor.
Kata Kunci: Modifikasi kutub, Motor induksi, Rotor sangkar, Kumparan tak simetris.
THE PROPAGATION OF SOUND THROUGH DIFFERENT FOAMS
Masno Ginting, P. Sebayang, Mulyadi, Djoko Triyono
Abstrak
Ketika suara merambat melalui sebuah medium, intensitas suara tersebut akan mengalami atenuasi. Penelitian ini menggunakan busa sebagai medium. Jenis busa yang digunakan ada dua, yaitu busa berwarna hitam dengan ukuran pori 0,5 mm dan busa berwarna hijau dengan ukuran pori 1 mm. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penurunan intensitas suara dipengaruhi oleh kenaikan frekuensi. Busa berwarna hijau memiliki kemampuan yang lebih besar untuk menyerap suara daripada busa yang berwarna hitam.
Kata Kunci: Busa, Atenuasi, Suara
EFISIENSI UNSUR HARA DARI PUPUK KANDANG OLEH ZEOLIT PADA PENANAMAN PERIODE KEDUA
Lenny Marilyn Estiaty
Abstrak
Zeolit sebagai bahan penyedia lambat (Slow release agent) dapat mengikat dan menyimpan unsur hara sementara, kemudian melepaskannya kembali saat tanaman membutuhkannya sehingga mengurangi kehilangan unsur hara melalui penguapan maupun pencucian. Telah diketahui bahwa tanah yang ditambah zeolit 20 ton/ha dan pupuk kandang setara 10 ton/ha pada media tanam merupakan dosis paling baik bagi tanaman kangkung darat (Ipomea reptans) pada penanaman periode pertama. Penelitian kali ini merupakan penelitian lanjutan yang bertujuan mengetahui manfaat penambahan zeolit dan pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan serapan unsur hara tanaman kangkung darat pada penanaman periode kedua. Penanaman dilakukan selama dua periode. Segera setelah tanaman dipanen (periode pertama), media tanam bekas penanaman periode pertama langsung ditanami untuk periode kedua (tanpa penambahan pupuk maupun zeolit) dan hasilnya diamati. Pada periode kedua, tanah (media tanam) yang mengandung zeolit 3 gr/pot (2 ton/ha) pada media tanam memberikan pengaruh pertumbuhan dan serapan unsur hara yang lebih tinggi daripada perlakuan zeolit lainnya.
Kata Kunci: Zeolit, Pupuk kandang, Efisiensi hara. periode kedua
INFLUENCES OF TEMPE INOCULUMS RHIZOPUS OLIGOSPORUS AND INCUBATION TEMPERATURE TO THE QUALITY OF SOYBEAN TEMPE
Abstrak
Tempe merupakan produk fermentasi kedelai khas Indonesia. Genus yang paling penting dalam pembuatan tempe adalah Rhizopus oligosporus. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh inokulum tempe R. oligosporus dan suhu inkubasi terhadap aktivitas enzim protoase dan kualitas tempe kedelai. Kedelai masak diinokulasi dengan inokulum R. oligosporus 0.5% (FCC1, FCC2, FCC3, FCC4, dan FCC5) yang diisolasi dari inokulum tradisional yang disebut usar. Kedelai yang telah diinokulasi diinkubasi pada suhu 30 C selama 24 jam, sebagian dari sampel diikubasi lanjut pada suhu 25 C dan sebagian lainnya pada suhu 30 C selama 24 jam. Analisis aktivitas protease, kandungan protein terlarut, amonia, pH, kadar air, dan tekstur dilakukan untuk mengetahui kualitas produk tempe. Inokulum R. oligosporus dan suhu inkubasi berpengaruh signifikan terhadap aktivitas protoase tempe kedelai, pada suhu inkubasi 30 C memiliki aktivitas protease yang lebih tinggi dibandingkan pada suhu 25 C. Kandungan protein terlarut, amonia, dan pH tempe yang diinkubasi pada suhu 30 C, secara umum lebih tinggi dibandingkan pada suhu 25 C. Inokulum R. oligosporus FCC2 menunjukkan aktivitas protease dan kandungan amonia yang rendah pada produk tempe kedelai. Tempe kedelai yang dihasilkan dalam penelitian ini memiliki kadar air di bawah 65%. Kadar air yang tinggi akan menghasilkan angka tekstur yang rendah. Tempe kedelai yang diinkubasi pada suhu 30 C menghasilkan kadar air yang lebih rendah dan angka tekstur yang lebih tinggi.
Kata Kunci: R. oligosporus, Protease, Tempe kedelai.
Keterangan:
Buku ini dapat diperoleh di toko-toko buku terkemuka,
atau dapat menghubungi :
Yayasan Obor Indonesia
Jl. Plaju No.10 Jakarta 10230
Telp. (021) 31926378, 3920114
Faks. (021) 31924488
Email : yayasan_obor@cbn.net.id