
Dewan Redaksi: Totok M. S. Soegandi (Ketua), Tarzan Sembiring (Wakil Ketua), Dyah Hardini (Sekretaris). Anggota: Mochmad Ichwan, Supartono S, Iip Syarif Hidayat, Adiseno, Tigor Nauli, Elan, Djaelani, Linar Zalinar Udin, Anny Sulaswatty, Adrin Tohari, Heru Santoso, Kreshna, Amurwabumi, Masno Ginting, Rudy Subagja. Redaksi Pelaksana: Agusto W. Martosudirdjo, Kamaludin, Euis Setiawati.
Alamat Sekretaris Redaksi: UPT Balai Informasi Teknologi, Kompleks LIPI Gd 40
Jl. Cisitu, Sangkuriang Bandung 40135, Telp: (022) 2502832, 2504265.
Penerbit: Balai Media Dan Reproduksi (LIPI Press), Jl. Gondangdia Lama No. 39 Jakarta 10350, Telp:(62-21) 314 0228, 314 6942, Fax: (62-21) 314 4591, Email: press@mail.lipi.go.id, lipipress@centrin.net.id, bmrlipi@centrin.net.id
Content
Peroxidase Activity Elicited by Horseradish Callus in Linsmaier-Skoog Liquid Medium
S. Pudjiraharti and A.T. Karossi
Abstract
Calluses were obtained by inducing the leaf tissue of Horseradish plant on Linsmaier-Skoog (LS) agar medium containing naphtalene acetic acid (NAA) and benzyl amino purine as the growth hormone. To figure out optimum activation time various weight of 30 days subcultured calluses were grown in 25 ml LS liquid medium consist of NAA and Kinetin, incubated at room temperature (24-28oC), 100 rpm, in the dark for 15 days. The result indicated that ten days of incubation was an optimum time resulting maximum specific enzyme activity (SEA) for all weight of calluses. The highest maximum SEA 14.40 Unit/mg protein and 0.85 Unit/mg protein were indicated in 0.1 g callus culture for intracellular and extracellular enzyme respectively. Subcultured calluses in equal volume of the same medium and the same condition resulted higher SEA for almost four times for intracellular enzyme and more than six times for extracellular enzyme at shorter incubation period (6-8 days).
Keywords: Peroxidase, Horseradish, Callus, intracellular, extracellular.
Abstrak
Kalus horseradish diperoleh dengan cara induksi daun muda pada medium agar Linsmaier-Skoog (LS) yang mengandung Asam Naftalen Asetat dan Benzil Amino Furin sebagai hormon tumbuh. Untuk mencari waktu aktifvasi optimum, kalus yang berumur 30 hari dengan berbagai variasi berat di tumbuhkan dalam 25 ml medium LS cair yang mengandung NAA dan Kinetin, diinkubasi pada suhu ruang (24-28oC), 100 rpm, dalam gelap selama 15 hari. Hasil menunjukkan inkubasi 10 hari adalah waktu optimum untuk menghasilkan aktifitas spesifik enzim (ASE) maksimum untuk seluruh variasi berat kalus. ASE maksimum tertinggi 14,40 Unit/mg protein dan 0,85 Unit/mg protein diperoleh pada kultur dengan berat kalus 0,1 g masing-masing untuk enzim intraseluler dan enzim ekstraseluler. Subkultur dalam medium dengan volume dan kondisi yang sama menghasilkan ASE empat kali lebih tinggi untuk enzim intaseluler dan lebih dari enam kali untuk enzim ekstraseluler.
Kata Kunci: Peroksidase, Horseradish, Kalus, Intraseluler, Ekstraseluler
Strain Improvement of Brevibacterium sp ATCC 21866 for L-Lysine Production using Ultra Violet Irradiation
Yetti Mulyati Iskandar, S.Pudjiraharti and Patuan LPS
Abstract
L-lysine is one of the essential amino acids and can be synthesized through many kind of treatments, one is fermentation process. Mutagenic treatment was carried out to increase L-lysine concentration of Brevibacterium sp ATCC 21866. Ultra violet irradiation was carried out at ë 254 nm for 60 second with 13 cm distance to the wild type strain for increasing L-lysine production. Auxotroph mutant of Brevibacterium sp ATCC 21866 (C 12, C16, C 19, and C 30) was used in shake flask fermentation for 4 days at 300 C with orbital shake at 150 rpm. The observation indicated that L-lysine concentration of the wild type strain Brevibacterium sp ATCC 21866 has 5,75 g/L, meanwhile the highest L-lysine concentration from auxotroph mutant of Brevibacterium sp ATCC 21866 (C 29) was 11,29 g/L. The induction of Ultra Violet irradiation of the wild type strain could increase 96% of L-lysine production. Increased L-lysine concentration occurs at day 4 in the fermentation process.
Keywords: Brevibacterium sp ATCC 21866, auxotroph mutant, L-lysine
Abstrak
L-lisin merupakan asam amino essensial yang dapat disintesis melalui beberapa cara, salah satunya adalah melalui proses fermentasi. Perlakuan mutagenik dilakukan untuk meningkatkan kadar lisin dari Brevibacterium sp ATCC 21866. Untuk meningkatkan produksi lisin, penyinaran dilakukan dengan menggunakan Ultra Violet pada ë 254 nm selama 60 detik dengan jarak 13 cm terhadap galur liar. Mutan auxotroph Brevibacterium sp ATCC 21866 ( C12, C16, C19, dan C30) , digunakan pada fermentasi dalam skala labu kocok selama 4 hari pada suhu 300 C dengan goncangan orbital pada 150 rpm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar lisin dari galur liar Brevibacterium sp ATCC 21866 adalah sebesar 5,75 g/L sedangkan kadar lisin tertinggi dari mutan auxotroph Brevibacterium sp ATCC 21866 (C 29) adalah sebesar 11,29 g/L. Iradiasi sinar ultra violet pada galur liar dapat meningkatkan produksi lisin 96 %.Peningkatan kadar lisin ini terjadi pada proses fermentasi hari ke-4.
Kata kunci: Brevibacterium sp ATCC 21866, mutan auxotroph, L-lisin
Diversity of Syntrophic Substrate-Oxidizing Anaerobes Determined by 16S rRNA Gene Analysis
Ambar Susilorukmi
Abstract
Diversity of syntrophic substrate oxidizing anaerobes of mesophilic and thermophilic environments were analyzed by applying conventional cultivation techniques combined with molecular approaches. For cultivation the syntrophic bacteria, various anaerobic samples were used as inocula in primary enrichments with propionate, benzoate and ethanol as substrate, individually. The almost all enrichment cultures comprised of F420 autofluorescent methanogen-like cells and other bacterial-type cells, producing methane along with substrate depletion. To identify the syntrophic bacteria that might occur in the enrichments, 16S rDNA-based cloning analysis was conducted for all enrichment cultures. Among the predominant clones recovered from each enrichment culture, some clones showed close relation with known bacteria to date as syntroph, such as Desulfovibrio sp. Nonetheless, several clones seemed to indicate novel bacterial lineages that have never cultivated and isolated so far, such as clones related with the genus Geobacter in two mesophilic ethanol enrichments, clones representing a deeply branched lineage of the phylum Firmicutes in a thermophilic ethanol enrichment culture, and clones related with the genus Desulfobulbus in a mesophilic propionate degrading anaerobes. To determine whether the dominant clones were derived from the dominant microbes in enrichment cultures, specific DNA probes were designed and applied for the cultures in fluorescence in situ hybridization analyses. This resulted in the detection of a number of DNA probe-reacted cells in all the cultures, suggesting the probe-positive cells were the dominant microbes in the cultures. This study strongly suggested that the strategy employing conventional techniques combined with 16S rRNA-based approaches is advantageous to determine the diversity of recalcitrant microbes like syntrophic microorganisms and to attempt at subsequent isolation of targeted cells.
Keywords: diversity, syntrophic, bacteria, methanogens, anaerob, mesophilic, thermophilic, cloning analysis, hybridization.
Abstrak
Keanekaragaman bakteri anaerob (mesofilik dan termofilik) pengoksidasi substrat secara sintrofi dianalisa menggunakan metode kultivasi secara konvensional, dikombinasikan dengan pendekatan molekular. Untuk kultivasi bakteri sintrofi beberapa sample anaerob dipergunakan sebagai inukulum dalam perbanyakan kultur, serta dipergunakan propionat, benzoat dan ethanol sebagai substrat. Bersamaan dengan berkurangnya konsentrasi substrat, terbentuk gas methan dan acetat, serta diperolehnya dua type mikroorganisme yaitu sel-sel methanogen (autofluorescense F420) dan sel bakteri lain. Untuk mengidentifikasi bakteri sintrofi yang tumbuh dalam kultur tersebut, dilakukan cloning analisis (16S rDNA-based cloning) untuk tiap-tiap kultur. Hasil menunjukkan, bahwa beberapa klon yang dominan menunjukkan kekerabatan yang sangat dekat dengan bakteri sintrofi, misalnya Desulfovibrio. Walaupun demikian, beberapa klon cenderung menunjukkan kelompok bakteri baru yang belum pernah dikulturkan maupun diisolasi sebelumnya, seperti Geobacter (dari kultur mesofil pengoksidasi ethanol); klon bakteri yang termasuk dalam phylum Firmicutes (dari kultur thermofil pengoksidasi ethanol) serta bakteri yang mirip dengan Desulfobulbus (dari kultur mesofil pengoksidasi propionat). Selanjutnya untuk mengidentifikasi, apakah klon yang dominan tersebut berasal dari sel bakteri yang dominan tumbuh di dalam kultur, dilakukan hibridisasi sel bakteri secara in situ (FISH) dengan menggunakan probe yang telah diketahui ataupun didesain. Hasil yang positif ditunjukkan apabila sel di dalam kultur bereaksi dengan probe yang diaplikasikan. Studi ini, merupakan strategy yang menguntungkan dalam mengidentifikasi keanekaragaman mikroorganisme yang sulit untuk dikultivasikan (mis. Bakteri sintrofi), serta sebagai informasi yang sangat berguna untuk pemurnian kultur.
Kata kunci: keanekaragaman, sintrofi, bakteri, methanogen, anaerobic, mesofilik, termofilik, cloning, hibridisasi.
Kombinasi Ekstrak Kedelai dengan Tepung Jagung dan Tapioka sebagai Media Produksi Kristal dan Spora Bacillus Thuringensis
T. Sembiring dan A. Fachmiasari S
Abstrak
Telah dilakukan penelitian produksi spora dan kristal protein Bacillus thuringiensis memakai kombinasi media bahan alam yaitu kombinasi tepung tapioka, tepung jagung, dan kacang kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi yang paling baik untuk produksi spora dan kristal protein B. thuringiensis. Penelitian dilakukan dengan menumbuhkan bakteri B. thuringiensis dalam sembilan kombinasi ekstrak kedelai dengan tepung jagung dan tapioca . Berdasarkan hasil penelitian, terdapat empat kombinasi media bahan alam terbaik untuk selanjutnya digunakan sebagai media produksi spora dan kristal protein yaitu M2, M3, M4, dan M9. Evaluasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah kepadatan sel (OD sel), kepadatan spora (OD spora), kadar karbon dan nitrogen terpakai, dan biomassa spora dan kristal protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi media bahan alam terbaik yang menghasilkan produksi spora dan kristal protein tertinggi adalah media M4 dengan produksi biomassa sebesar 1,6720 g/L.
Kata kunci: Bahan alami, kedelai, jagung, tapioka, Bacillus thuringensis, kristal protein, spora, media, produksi.
Abstract
The research about production of spore and crystal protein Bacillus thuringiensis in many kinds of natural sources media combination such as tapioca flour, corn flour, and soybean was conducted. The aims of this research was to investigate combination of those natural sources as media for production of spore and crystal protein B. thuringiensis. B. thuringiensis inoculated into nine natural sources media combination
Based on the result, there are four media combination was choosen for further use as media for production of spore and crystal protein, they were M2, M3, M4, and M9. Optical Density of cell (OD cell), Optical Density of spore (OD spore), concentration of carbon and nitrogen used, and biomass of spore and crystal protein were evaluated during the research. The result shown that media combination which produce the highest production of spore and crystal protein was M4 with biomass concentration of 1,6720 g/L.
Keywords: Natural source, soy bean, corn, tapioca, Bacillus thuringensis, crystal protein, spora, media, production
Antena Mikrostrip Polarisasi Sirkular
Rustini S.K, Yuyu Wahyu dan Pamungkas Daud
Abstrak
Pengetahuan mengenai antena, khususnya di Indonesia masih perlu dikembangkan lebih luas lagi. Penelitian antena patch high gain untuk sistem komunikasi satelit bergerak dimulai dari hal yang paling sederhana yaitu merancang antenna mikrostrip atau yang sering juga disebut patch antena, untuk elemen tunggal. Untuk mendapatkan gain yang tinggi antenna elemen tunggal ini perlu dibuat dalam bentuk susunan antenna (array). Pada tulisan ini kami telah mendesain patch antena elemen tunggal.
Abstract
The knowledge concerning antenna, especially in Indonesia still needs to be developed. The research on the high gain patch antenna for the mobile satellite telecommunication system is initiated from the very simple one, that is from designing micro stripped antenna or commonly called patch antenna for single element configuration. To obtain the high gain antenna, this single element is set up using array antenna. In this paper single element patch antenna has been designed.
Sistem Sensor Keamanan dengan Sinyal Signature Berbasis Derau dan Level Daya untuk Menghindari Jamming oleh Penyusup
Syamsu Ismail dan Iip Syarif Hidayat
Abstrak
Sistem sensor untuk areal dengan tingkat keamanan tinggi harus dibuat sehingga dapat mengenali sinyal jamming yang dikirim oleh penyusup. Sistem sensor dengan sinyal tertanda, atau signature, berbasis derau dapat memberikan tingkat keamanan yang cukup tinggi untuk keadaan khusus seperti tersebut di atas. Sistem sensor yang akan dibahas di dalam tulisan ini adalah sistem sensor dengan cahaya. Aplikasi sinyal derau sebagai pewaktu dalam sistem mempersulit untuk meramalkan data yang akan datang kemudian. Hal itu disebabkan oleh karena data tersebut, yang berfungsi sebagai signature, dikeluarkan secara acak. Intensitas sumber cahaya yang akan digunakan dimodulasi lebih oleh sinyal signature sebelum dilepaskan ke dalam daerah pemantauan. Di sisi pendeteksi, kode sinyal yang datang dibandingkan dengan sinyal sumber. Apabila sinyal tersebut masih sesuai, maka dianggap keadaan aman, bila sebaliknya dianggap tidak aman atau ada penyusup. Untuk menghindari penggunaan jalan lain, lewat pemantul, digunakan suatu pembanding daya optik acuan yang diset saat instalasi.
Kata kunci: Sistem Sensor, Jamming, Derau, Level Daya Optik
Abstract
Sensor system for high degree of security area must be made in such away that it has the ability to distinguish jamming signal, which might be sent by an intruder. A sensor system which has a signature signal based on noise can give a fairly high class of security for such situation. In this paper the optical or light sensor system will be discussed. The application of noise as a clock signal, making it is very difficult to predict the next data, due to the stored data is read randomly. Intensity of light source is modulated by a code signature signal before it launched to the monitored area. At the detection side, the incoming signals are compared with the origin code, if the signal is exactly has the same code or not, the same code means the secure situation. To prevent bypassing or different of the light path, the incoming power of light is calculated and compared with the reference level, which is set after installation.
Keywords: Sensor System, Jamming, Noise, Optical Power Level