ISSN 0126-1533: Jurnal Teknologi Indonesia Vol. 28, No. 1

Alamat Sekretaris Redaksi: UPT Balai Informasi Teknologi, Kompleks LIPI Gd. 40, Jl. Cisitu, Sangkuriang, Bandung 40135, Telp.: (022) 2502832, 2504265

Publisher: LIPI Press, member of Ikapi. Jl. Gondangdia Lama No. 39, Menteng, Jakarta 10350, Indonesia; Phone: +62 21 3140228, 3146942. Fax.: +62 21 3144591. Email: press@mail.lipi.go.id, bmrlipi@centrin.net.id, lipipress@centrin.net.id

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia


Daftar Isi

Optimasi Proses Sinter dari Keramik Timbal Zirkonat Titanat (PZT) dan Kajian Sifat Fisisnya
Perdamean Sebayang, Tomi Budi Waluyo, Muljadi, Kreshna A.

Abstrak
Telah dilakukan pembuatan keramik timbal zirkonat titanat (PZT) melalui proses sinter dengan cara enkapsulasi atau tertutup pada berbagai variasi suhu dan waktu penahanan. Bahan penutup diperoleh dari reaksi zirconium oxide cloride octahidrate (ZrO.Cl2.8H2O) dan timbal asetat (CH3COO)2 Pb.3H2O yang dikalsinasi pada suhu 850oC, 4 jam dan menghasilkan serbuk PbZrO3. Untuk mengetahui waktu pembakaran yang tepat telah dilakukan analisa termal (DTA) dari serbuk PZT tersebut. Benda uji dibuat dari bahan PbO, ZrO2 dan TiO2, dicampur/giling dengan ball mill, dikeringkan pada suhu 100oC selama 24 jam, dicetak menjadi pellet dengan tekanan 50 kPa. Selanjutnya pellet tersebut disinter pada suhu 1.100, 1.150 dan 1.200oC, masing-masing ditahan selama 2, 3 dan 4 jam. Hasil analisa XRD menunjukkan bahwa keramik PZT mempunyai struktur kristal tetragonal dengan parameter kisi, a = b = 4,12 dan c = 4,08 Å. Kondisi optimum dari proses pembuatan keramik PZT dicapai pada suhu 1.150oC yang ditahan selama 2 jam dengan karakteristik sebagai berikut: susut bakar 36,2 porositas 2 densitas 7,53 g/cm3 dan kekerasan (Hv) 455 kgf/mm2.

Kata kunci: Timbal zirkonat titanat (PZT), sintering, piezoelektrik, transducer, memory switching, fasa perovskite, struktur tetragonal


Effect of Temperature and Width of Heated Metal Strips Junctions on a Compass Needle Deflection
Masno Ginting , Djoko Triyono, Wendy Siman

Abstrak
Kemampuan untuk mendefleksikan jarum kompas dari tiga jenis ukuran lebar dari sambungan logam pipih (tembaga dan kuningan) telah diteliti dengan mengubah temperatur pemanasan di antara sambungan. Dari percobaan diketahui bahwa semakin lebar ukuran logam dan semakin tinggi temperatur maka semakin besar defleksi dari jarum kompas. Hasil ini juga membuktikan bahwa dengan memanaskan sambungan dari dua logam pipih akan menimbulkan arus listrik dan kemudian medan magnit. Kata kunci: kompas, logam, sambungan, listrik, temperatur, medan magnit

Abstract
The ability of deflecting a compass needle of three different widths of metal strips junctions (copper and brass) has been investigated by varying the heating temperature between the junctions. From the experiments it was found that the wider the width and the higher the temperature the higher is the compass needle deflection. This result also proven that the heated two of different metal strips junction will create the electric current and then the magnetic field.

Keywords: compass, metals, junctions, electricity, temperature, magnetic field


Program Aplikasi LUCEAsT sebagai Alat Pengkaji Dampak Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Kondisi Hidrologi Suatu DAS
Yunarto dan Heru Santoso

Abstrak
LUCEAsT merupakan program aplikasi hasil penyempurnaan model INDOCLIM, yaitu sebuah model terpadu yang dirancang sebagai alat bantu bagi pembuat kebijakan untuk mengevaluasi pengaruh perubahan pola penggunaan lahan dan perubahan iklim terhadap pola debit air sungai. Program aplikasi LUCEAsT dibuat dalam bahasa Visual Basic 6 dan Mapbasic 6, yang dapat dijalankan melalui OS Windows 2000/XP. Aplikasi ini dirancang untuk memberikan kemudahan dalam mengkaji perubahan pola tata guna lahan, khususnya yang berkaitan dengan rencana tata ruang wilayah yang langsung dapat ditentukan oleh pembuat kebijakan terhadap kondisi hidrologi pada suatu daerah aliran sungai (DAS), terutama pola debit air sungai, infiltrasi dan aliran mantap pada suatu DAS, yang ditampilkan dalam bentuk grafik hidrograf dan sensitivitas, serta dalam bentuk peta sebaran nilai real maupun perubahan debit, infiltrasi, dan aliran mantap relatif terhadap kondisi referensi.

Abstract
LUCEAsT is a further enhancement application programme of INDOCLIM, which is an integrated model designed as a tool for policy-makers in evaluating the effects of land use pattern changes and climate changes on the variability of streamflows. LUCEAsT is developed using Visual Basic 6 and Mapbasic 6 programme compilers, and can be executed on Windows 2000/XP. This application has been designed for a simplicity in evaluating the effects of land use changes, particularly in relation with spatial planning as designed by users, on hydrologic conditions of a watershed such as total runoff, infiltration and baseflow, that can be displayed in forms of hydrographs and sensitivity graphs, and distribution maps of real values as well as of the changes in runoff, infiltration and baseflow with respect to a referenced condition


Aplikasi Mikroorganisme untuk Bioremediasi Oil Spill Sistem Dua Tahap
Ambar Susilorukmi, L. Sriwuryandari dan T. Sembiring

Abstrak
Bioremediasi oil spill secara semi kontinu telah dipelajari pada suhu kamar (+ 290C), dengan menggunakan minyak diesel sebagai model oil spill. Percobaan dilakukan dalam dua tahap mempergunakan dua bioreaktor berbentuk kolom (bioreaktor 1 dan 2) serta dua tipe mikroorganisme yang berbeda sebagai inokulum. Pada tahap 1 dipergunakan kultur yang didominasi oleh kapang (Fg) untuk mendegradasi minyak diesel pada kondisi keasaman (pH) medium tidak diatur. Hasil degradasi minyak pada tahap 1, selanjutnya di-treatment di tahap 2 pada tingkat keasaman netral (±7) serta dipergunakan kultur yang didominasi oleh bakteri (Cd) sebagai inokulum. Pengaturan pH dilakukan dengan penambahan buffer PO42- pada awal proses degradasi. Kinerja sistem ini ditunjukkan dengan terjadinya kelarutan minyak dan penurunan konsentrasi minyak di kedua bioreaktor. Secara visual terlihat adanya perubahan fisik minyak diesel, berturut-turut menjadi komponen yang misible, diikuti dengan tercampurnya sebagian komponen minyak dengan medium. Dari percobaan ini diperoleh bahwa konsentrasi minyak maksimum yang dapat diterima oleh sistem ini adalah 100.000 mg/l dengan efisiensi degradasi sebesar 90Penurunan konsentrasi COD, hanya dapat diobservasi di tahap 2, dan nilai COD terendah yang bisa dicapai adalah 5.000 mg/l. Selama percobaan, terjadi perubahan keasaman medium di dalam bioreaktor 1 dari pH netral menjadi pH 4-5, sedangkan di dalam bioreaktor 2 tidak terjadi perubahan pH. Observasi mikroskopis menunjukkan bahwa populasi kapang dan bakteri berkembang dengan baik di masing-masing bioreaktor. Juga ditunjukkan bahwa sel-sel kapang di tahap 1 membentuk spora dan mampu masuk ke dalam fasa atau butiran minyak. Sel bakteri yang tumbuh dominan di tahap 2 berbentuk oval dan dapat bergerak.

Kata Kunci: Oil spill, bioremediasi, mikroorganisme, degradasi, semi kontinu/ kontinu, pH fungus

Abstract
Bioremediation of oil spill by applying microorganism was studied semi continuously at room temperature (+ 29 0C), by applying of diesel oil as oil spill model. Experiment was performed in two stages, using two column-shaped bioreactors, (bioreactor 1 and 2) and used of two type microorganism as inocula for each stage. At stage 1, diesel oil was treated at natural pH by using an enrichment cultures dominated by fungi (Fg-enrichment) as inoculum. Outlet from stage 1 was then pumped to stage 2 which was maintained at normal pH (+7) and used of an enrichment cultures dominated bacteria population (Cd-enrihment) as an inoculum. Acidity of medium in bioreactor 2 was adjusted by adding phosphate buffer (PO42-) at the initial degradation. Performance of the system was represent with oil compounds dissolving in the medium. along with decreasing of oil concentration in both stages. Population of fungi and bacterium were observed to be increased, as well as oil degradation process. Meanwhile, physical characteristics of oil also changed to be miscible compounds prior to the dissolving compounds. The study resulted, the semi continuous system able to degrade diesel oil at the maximum concentration of 100000 mg/l with efficiency of 90The decreasing of COD level was observable only in stage 2 and the lowest level was achieved at 5000 mg/l. Acidity of medium in the stage 1 decreased to pH 4-5 meanwhile pH in the stage 2 was stable at pH ±7. Microscope observation revealed that cells of fungi in the stage 1 produced spore and able to penetrate into oil phase. Eventhough bacterium-like cells dominantly in the stage 2 are oval-shape type and motile.

Key Words: Oil spill, bioremedition, microorganism, degradation, semi continuous/ continuous, pH, biosurfactan


Aplikasi Biofertilizer untuk Pertumbuhan Tanaman Cabai (Capsicum annuum)
Lies Sriwuryandari, Ambar Susilorukmi

Abstrak
Telah dilakukan penelitian mengenai penggunaan biofertilizer untuk pertumbuhan tanaman cabai (Capsicum annuum) di rumah kaca berukuran 4 m x 6m. Bibit cabai dalam pot plastik berukuran 35 cm, tinggi 45 cm. Tanaman cabai diberi biofertilizer dengan dosis yang sama dengan kebutuhan pupuk biasa di lapangan yaitu setara dengan 100 kg per ha. Biofertilizer tersebut adalah pupuk hayati dengan menggunakan bahan aktif mikroorganismme yang berfungsi sebagai penambat Nitrogen, Pelarut Fosfat dan Kalium. Mikroorganisme yang digunakan adalah bakteri terseleksi sebagai biomassa pemecah bahan organik kasar menjadi bahan organik yang dapat diserap oleh tanaman. Perlakuan tanaman tersebut bervariasi: tanaman yang menggunakan pupuk kimia/anorganik yang beredar di pasaran, tanaman dengan pupuk campuran biofertilizer + pupuk anorganik, tanaman dengan biofertilizer, dan tanaman kontrol. Hasil yang diperoleh dari pemanfaatan biofertilizer ini cukup baik yaitu rata-rata 502,66 gr/pot.

Kata kunci: Cabai keriting, Capsicum annuum, Biofertilizer, Mikroorgnisme, Pupuk hayati, Aplikasi

Abstract
Experiment on the utilization of biofertilizer for chilli (Capsicum annuum) in a green house, the seeds planed in 35 cm, height 45 cm). Biofertilizer was added at the same?the plastic pots ( dose as the chemicals fertilizer namely 100 kg/ha. Biofertrilizer is a fertilizer consist of active microorganisms which could dilute Potassium, Phosphor and fixed nitrogen from the air. Microorganism used in the experiment was selected bacteria which are able to degrade macro molecule of organic compound into small molecule of organic substances which can be absorbed by the plant. The fertilizer was used in the plants using chemicals fertilizers, combination of chemical fertilizer and biofertilizer, and a plant as a reference without any fertilizer. The result using biofertilizer was acceptable with the average production of 502.66 gr/pot.

Keywords: Chili, Capsicum annuum, Microorganism, Biofertilizer, Application.


Pengaruh Putaran terhadap Sudut Penyalaan pada Motor Bensin
Aep Saepudin

Abstrak
Telah dilakukan pengujian pengaruh putaran terhadap sudut penyalaan pada motor bakar di Laboratorium Motor Bakar Telimek-LIPI. Motor yang digunakan adalah motor bakar satu silinder dengan kapasitas 499,6 cc. Hasil pengujian menunjukkan bahwa untuk menghasilkan daya maksimum dengan pemakaian bahan bakar yang sama (0,34 kg.kW.h-1), pada kenaikan putaran dari 2.000 rpm ke 3.200 rpm, maka sudut penyalaan dari motor harus dimajukan dari 4oSTMA ke 14oSTMA.

Abstract
The study of rotation effect to ignition angle at combustible engine has been carried out in the Laboratory of combustion engine, Telimek – LIPI. Engine used was combustible engine single cylinder 499.6 cc in capacity. The results showed that to produce the maximum power with the same fuel consumption ( 0.34 kg . kW.h-1), with the increasing of rotation from 2,000 rpm to 3,200 rpm, the ignition angle of the engine should be forwarded from 4oTDC to 14oTDC.


Unburnt Coal Matrixes Qualification and Quantification on Artificial Vegetation Substrates Column by High Resolution Computed Tomography Imaging Technique
Anggoro Tri Mursito

Abstract
The aim of this study was to classify the object of unburnt coal matrixes and also to investigate the respective effects of the HU (Hounsfield Units) density and their attenuation of unburnt coal matrixes, detected by Computed Tomography (CT) on the column of acrylic glass cylinders of artificial vegetation substrates made by coal fly ash, tegel (clayey silt) and gravel G5. The total of 32 acrylic glass cylinders and the 64 CT-images were exposed to coal fly ash matrixes (HU = 626,95 - 1015), tegel matrixes (HU = 1274,38 – 1533,35) and gravel matrixes (HU = 1533,35 - 3071), without progressive massive destructions, were investigated by high-resolution and conventional CT scans to detect the skipped HU and to quantify the attenuation coefficient by measuring the relative area (ROI = Region of Interest) of the unburnt coal matrixes with attenuation values lower than the attenuation of coal fly ash matrixes of 626,95 – 1015 Hounsfield Units. Ten images had evidence of unburnt coal matrixes on CT scans. Unburnt coal matrixes had the attenuation coefficient more rarely than coal fly ash matrixes. Significant correlations were found between the air attenuation coefficient which is – 1024 HU and the extent of unburnt coal matrixes which has 238,49 – 497,46 HU. No difference was demonstrated in the linear relationships between the extent of unburnt coal matrixes and the coal fly ash matrixes function according to the type of exposure or the presence of unburnt coal matrixes on CT scans. This study suggests that unburnt coal matrixes detected by computed tomography have no influence, by themselves, on coal fly ash matrixes function and that they should only be considered as a marker of exposure.

Keywords: Attenuation coefficient, Hounsfield Units (HU), Computed Tomography (CT) scan, Artificial vegetation substrates, Coal fly ash, Unburnt coal matrixes

Abstrak
Tujuan dari studi ini adalah untuk mengklasifikasikan salah satu obyek matriks batubara yang tidak terbakar dan juga untuk menyelidiki daripada efek masing-masing satuan Hounsfield Units (HU) yang menunjukkan adanya kerapatannya dan pelaifannya dari batubara yang tidak terbakar tadi yang terdeteksi dengan menggunakan mesin Computed Tomography (CT-Scan) pada beberapa kolom yang berbentuk silinder gelas acrylic yang di dalamnya berisi substrat vegetasi sintetis yang terbuat dari abu terbang batubara, tegel (lempung lanauan) dan gravel G5. Total dari 32 silinder gelas acrylic dan sebanyak 64 photo digital CT yang telah diklasifikasikan sebagai matriks abu terbang batubara (HU = 626,95 – 1015), matriks tegel (HU = 1274,38 – 1533,35) dan matriks gravel (HU = 1533,35 – 3071), dengan menggunakan CT-Scan konvensional ber-resolusi tinggi dan tanpa merusak secara progresif adanya contoh tersebut, sehingga ditemukan juga adanya satuan HU yang terlewatkan diantaranya yang diklasifikasikan sebagai matriks batubara yang tidak terbakar dengan mengukur area relatif ROI-nya sehingga didapatkan koefisien laifan lebih rendah daripada matriks abu terbang batubara yaitu 626,95 – 1015 HU. Sebanyak 10 dari 64 photo digital CT menunjukkan hal ini, yaitu matriks batubara yang tidak terbakar. Matriks batubara yang tidak terbakar mempunyai koefisien laifan yang sangat jarang di dalam matriks abu terbang batubara. Korelasi daripadanya secara signifikan telah ditemukan diantara koefisien laifan udara yaitu –1024 HU dan koefisien laifan matriks batubara yang tidak terbakar yaitu 238,49 – 497,46 HU. Tidak adanya perbedaan yang didapatkan dari hubungan fungsi linear diantara matriks batubara yang tidak terbakar dan matriks abu terbang batubara yang berdasarkan tipenya menunjukkan bahwa adanya hal itu terbukti di dalam photo digital CT. Studi ini menunjukkan bahwa matriks batubara yang tidak terbakar itu yang terdeteksi oleh mesin CT-Scan tidak mempunyai hubungan fungsi dan pengaruh daripadanya sendiri maupun pada matriks abu terbang batubara itu sendiri dan hanya sebagai tanda bahwa hal itu menunjukkan perbedaan.

Kata kunci: Koefisien laifan, Hounsfield Units (HU), Computed Tomography (CT-Scan), Substrat vegetasi sintetis, Abu terbang batubara, Matriks batubara yang tidak terbakar